Langsung ke konten utama

BERLARILAH BERSAMA ANGIN

Ada seorang kawan yang suka sekali jalan kaki. Waktu itu kami masih sama-sama berada di kota yang sama. Di sebuah kota kecil tempatku lahir dan besar, sampai aku harus meninggalkan kota itu untuk berkarya di kota lain.

Kawanku itu bisa tiba-tiba datang di suatu tempat dengan wajah yang memerah karena bergaul dengan sinar matahari, dan keringat yang telah bercampur dengan rambutnya yang meskipun telah disisir tapi masih saja bandel tidak mau lurus.. hehe. Maka kawan ku ini menyukai berjalan dan mencintai persahabatannya dengan sinar matahari, keringat dan kesendirian miliknya. 

Kawanku itu suka berjalan kaki, namun sampai hari ini aku tidak tahu alasan kenapa dia menyukai jalan kaki, mungkin mengirit biaya angkutan umum. (sepertinya ini alasan yang paling masuk akal untuknya...)

Hal itu terjadi sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Disaat kami masih menimba ilmu di kota kecil itu. Namun kini, kami telah menjelma menjadi manusia dewasa dengan salah satu cirinya adalah segala hal yang kami lakukan adalah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Puluhan jam jarak harus kami tempuh untuk bisa sekedar bertemu, bercerita dan menikmati waktu bersama. Maka kami memilih menjadi dewasa dengan resiko puluhan jam jarak yang tidak dapat kami atasi.

Kini kawanku itu menyukai berlari di tempat barunya. Dia selalu mengganggu ku dengan mengirim fotonya saat berangkat lari, mengirim foto sepatu baru yang dimilikinya untuk berlari, dan tidak kalah penting dia bercerita betapa senangnya dia berlari tanpa aku ada disana.

Maka kawanku, karena kita telah dewasa dengan pilihan kita, maka berlarilah dan bersahabatlah dengan angin yang selalu melewatimu saat berlari, karena tanpa kau sadari, angin tersebut menggantikan posisi ku sebagai kawanmu.. Terus berlarilah bersama angin kawan.

Kita memang telah memilih dewasa dengan semua tanggung jawab yang kita miliki seiring waktu berjalan, namun persahabatan yang kita miliki kawan tidak akan pernah berubah. Angin yang menemanimu adalah aku, bercerita tentang kisah kita berdua yang telah melewati masa 12 tahun.



#pinkyandthebrain

Komentar

Postingan populer dari blog ini

my diary, May, 12 2014 Apakah begini rasanya merasakan bahwa hidup tidak lagi meledak-ledak Bahwa hidup tak lagi menarik untuk sekedar dijalani saja tanpa banyak mengeluh Aku merasakan hilang tersesat, entah kenapa Bahwa aku sesungguhnya hanya ingin duduk melihat bintang di malam hari, menatap aliran air yang terus mengalir tanpa henti, melihat langit biru di bawah bayangan dahan pohon Meranti Aku merasakan kalah kawan.. namun aku merasa tak berperang selama ini Memang bukan perang jika selama ini hanya berjalan dalam tertidur, Dan tak pula aku melangkah, Bukan melangkah jika kau tak tahu arahkan? Ada kalimat yang aku suka ‘kau akan sampai pada tujuanmu selama kau melangkah, meski sangat pelan langkah tersebut’ Apakah aku akan sampai pada tujuanku kawan? jika selama ini aku tak melangkah Bantu aku kawan, aku mulai kehilangan peta di hidupku, tergantikan oleh keegoisan Bantu aku kawan, meski hanya sesobek peta yang dulu pernah aku ceritakan padamu

Ngebolang di hari Sabtu with kawan

Hari ini harus bangun pagi, jam 6 keluar rumah jemput Nia dan janjian ketemu sama Umi di toko Jensud 2 Jambi. Malas sih sebenarnya bangun pagi, apalagi di hari hujan ini, tapi mau gimana lagi acara senam yang diadakan Dinsosnakertrans Jambi dalam memperingati Bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)  dijadwalkan jam 6.30 in this morning. So, udara dingin diluar gak bisa membuatku menarik selimut lagi. Sepanjang jalan ke rumah Nia, ternyata sudah mulai ramai. Tampak orang-orang jogging dengan balutan pakaian training hangat, beberapa anak sekolah keluar rumah sambil berlarian memanggil temannya, toko-toko mulai buka dan ramai dikunjungi ibu-ibu belanja pagi hari. Aku salah mengira, meski gerimis di pagi ini, tapi semua kegiatan tetap harus berjalan seperti biasa, ilmu dan pekerjaan tidak akan mempedulikan cuaca. Setelah menjemput Nia di rumahnya, kami meluncur ke tempat janjian dengan Umi. Sesampai di toko, gerimis mulai deras. Tidak lama kemudian Umi datang diantar kakaknya, dan ...

Lari pagi tak seindah bayangan..

Liat orang lari pagi kayak e enak, seger. So aku membulatkan tekad akan lari pagi, niat doang dari kemaren baru terlaksana pagi ini. Habis shubuh berangkat dengan segala persiapan aku berangkat pari pagi (sekalian buang sampah biar dikata anak baik sama ibu kos..). Baru beberapa meter, nafas udah ngos-ngosan. Karena malu ma diri sendiri terus aja lari gak peduli jantung kaki mulai pegel. Ternyata jalan yang udah dirancang untuk dilalui jauhnya minta ampun, berkali-kali sempat menyesali sok-sokan lari pagi. Setelah nafas udah mulai gak mau diajak kompromi jalan kaki deh, perut yang dari dini hari minta diisi makin ngambek. Sakit (inilah akibat pingin diet dengan cara sok keren.. hahahahah) akhirnya memutuskan jalan aja. Gak peduli deh, meski tadi ada seorang bapak yang menyemangati pas aku lari. Sepanjang jalan ketemu banyak hal, polusi pagi, warung-warung yang mulai dibuka, penyapu jalanan, truk pengangkut sampah (hebat ya, mereka kerja disaat kita masih pada merem lho), sampai den...