Ada seorang kawan yang suka sekali jalan kaki. Waktu itu kami masih sama-sama berada di kota yang sama. Di sebuah kota kecil tempatku lahir dan besar, sampai aku harus meninggalkan kota itu untuk berkarya di kota lain.
Kawanku itu bisa tiba-tiba datang di suatu tempat dengan wajah yang memerah karena bergaul dengan sinar matahari, dan keringat yang telah bercampur dengan rambutnya yang meskipun telah disisir tapi masih saja bandel tidak mau lurus.. hehe. Maka kawan ku ini menyukai berjalan dan mencintai persahabatannya dengan sinar matahari, keringat dan kesendirian miliknya.
Kawanku itu suka berjalan kaki, namun sampai hari ini aku tidak tahu alasan kenapa dia menyukai jalan kaki, mungkin mengirit biaya angkutan umum. (sepertinya ini alasan yang paling masuk akal untuknya...)
Hal itu terjadi sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Disaat kami masih menimba ilmu di kota kecil itu. Namun kini, kami telah menjelma menjadi manusia dewasa dengan salah satu cirinya adalah segala hal yang kami lakukan adalah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Puluhan jam jarak harus kami tempuh untuk bisa sekedar bertemu, bercerita dan menikmati waktu bersama. Maka kami memilih menjadi dewasa dengan resiko puluhan jam jarak yang tidak dapat kami atasi.
Kini kawanku itu menyukai berlari di tempat barunya. Dia selalu mengganggu ku dengan mengirim fotonya saat berangkat lari, mengirim foto sepatu baru yang dimilikinya untuk berlari, dan tidak kalah penting dia bercerita betapa senangnya dia berlari tanpa aku ada disana.
Maka kawanku, karena kita telah dewasa dengan pilihan kita, maka berlarilah dan bersahabatlah dengan angin yang selalu melewatimu saat berlari, karena tanpa kau sadari, angin tersebut menggantikan posisi ku sebagai kawanmu.. Terus berlarilah bersama angin kawan.
Kita memang telah memilih dewasa dengan semua tanggung jawab yang kita miliki seiring waktu berjalan, namun persahabatan yang kita miliki kawan tidak akan pernah berubah. Angin yang menemanimu adalah aku, bercerita tentang kisah kita berdua yang telah melewati masa 12 tahun.
#pinkyandthebrain
Kawanku itu bisa tiba-tiba datang di suatu tempat dengan wajah yang memerah karena bergaul dengan sinar matahari, dan keringat yang telah bercampur dengan rambutnya yang meskipun telah disisir tapi masih saja bandel tidak mau lurus.. hehe. Maka kawan ku ini menyukai berjalan dan mencintai persahabatannya dengan sinar matahari, keringat dan kesendirian miliknya.
Kawanku itu suka berjalan kaki, namun sampai hari ini aku tidak tahu alasan kenapa dia menyukai jalan kaki, mungkin mengirit biaya angkutan umum. (sepertinya ini alasan yang paling masuk akal untuknya...)
Hal itu terjadi sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Disaat kami masih menimba ilmu di kota kecil itu. Namun kini, kami telah menjelma menjadi manusia dewasa dengan salah satu cirinya adalah segala hal yang kami lakukan adalah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Puluhan jam jarak harus kami tempuh untuk bisa sekedar bertemu, bercerita dan menikmati waktu bersama. Maka kami memilih menjadi dewasa dengan resiko puluhan jam jarak yang tidak dapat kami atasi.
Kini kawanku itu menyukai berlari di tempat barunya. Dia selalu mengganggu ku dengan mengirim fotonya saat berangkat lari, mengirim foto sepatu baru yang dimilikinya untuk berlari, dan tidak kalah penting dia bercerita betapa senangnya dia berlari tanpa aku ada disana.
Maka kawanku, karena kita telah dewasa dengan pilihan kita, maka berlarilah dan bersahabatlah dengan angin yang selalu melewatimu saat berlari, karena tanpa kau sadari, angin tersebut menggantikan posisi ku sebagai kawanmu.. Terus berlarilah bersama angin kawan.
Kita memang telah memilih dewasa dengan semua tanggung jawab yang kita miliki seiring waktu berjalan, namun persahabatan yang kita miliki kawan tidak akan pernah berubah. Angin yang menemanimu adalah aku, bercerita tentang kisah kita berdua yang telah melewati masa 12 tahun.
#pinkyandthebrain

Komentar
Posting Komentar