Aku tinggal di sebuah rumah toko di sebuah desa kecil di kabupaten Malang. Kalau semua orang mengenal Malang karena banyak kampus dan Batu sebagai tempat pariwisata, tempatku tinggal adalah sebuah desa sederhana dengan penuh kearifan budaya dan kekayaan alamnya. Dekat dengan kota Batu, tapi masuk Kabupaten Malang.
Toko yang aku jaga bersama suamiku adalah toko kecil yang isinya adalah keperluan sehari-hari untuk rumah tangga. Biasanya kami buka pukul 6 sampai dengan menjelang maghrib,namun kalau suamiku di rumah, dia akan menutupnya cukup malam sekitar 8 atau 9 malam.
Suatu malam ada kisah kecil yang sangat mengejutkan bagiku.
Pukul 08.30 malam, tiba-tiba ada serombongan anak-anak kecil (aku menganggap mereka kecil karena masih berumur di bawah 17 tahun) membeli es krim di tokoku. Wah luar biasa anak-anak ini, dengan udara sedingin ini mereka makan es krim, pikirku.
Mereka seperti anak-anak normal lainnya, bercanda dan bersikap seperti anak-anak lainnya. Ternyata mereka makan es krim di depan toko kami, dan aku berencana akan menutup toko sebentar lagi.
Ternyata ada satu anak lagi masuk toko dengan membawa uang beberapa lembar, aku berpikir dia akan membeli kue, di etalase, ternyata dia menunjuk etalase rokok.
Aku masih tidak percaya dan bertanya apa yang ingin dia beli, dia menyebutkan sebuah merk rokok.
Dengan ragu aku mengambilkan rokok tersebut, dan bertanya berapa umur anak itu. Dia menyebutkan 12 tahun, kelas 6 SD.
Umur 6 tahun biasanya anak-anak di desa ini baru saja melakukan khitan, artinya bisa jadi anak kecil imut ini baru atau belum khitan.
Dengan ragu-ragu kubolak-balik bungkus rokok sambil bergumam kalau ada larangan rokok tidak dijual untuk anak dibawah usia 18 tahun. Dan ternyata benar.
Akhirnya kukatakan kalau umurnya tidak cukup untuk membeli rokok, dan anak imut itu (putih dan gembul) mengatakan kalau disuruh temannya, ada yang sudah dewasa yaitu SMP kelas 3.
Tapi aku bilang rokok tidak dijual ya untuk anak dibawah usia 18 tahun. Akhirnya aku beranikan diri untuk keluar rumah dan menengok menanyakan adakah yang sudah berumur 18 tahun, tidak satupun dari mereka yang berumur 18 tahun. Melihat fisik mereka, sepertinya mereka adalah anak-anak berumur 12 sampai 16 tahun.
Aku hanya mengatakan kalau mereka belum 18 tahun mereka tidak boleh merokok.
Melihat mereka masih diluar rumah saat malam seperti ini, aku berpikir apakah orang tua mereka tidak khawatir dan mencari mereka. Apakah orang tua mereka tahu bahwa anak mereka sedang berada diluar rumah bersama dengan kawan dan melakukan hal-hal yang belum seharusnya mereka jalani.
Sungguh menyedihkan pemandangan tersebut, mungkin itu hanya perkara kecil bagi sebagian besar orang. Tapi itu adalah perkara kecil yang akan berdampak besar bagi kehidupan mereka.
Mungkin di pelosok daerah lain, anak-anak seusia mereka sedang asyik belajar atau bekerja membantu orang tua mereka. Demi masa depan yang lebih baik. Mungkin di tempat lain, anak-anak seusia mereka sedang mengangkat senjata melawan musuh-musuh negara.
Ayah Bunda, lihatlah putra putri kita, jangan lupa mereka adalah amanah. Jaga baik-baik dan cintailah mereka. Tapi jangan lupa, bahwa mereka adalah masa depan, maka didiklah mereka sesuai dengan jamannya dengan cara yang bijak dan arif.
Mungkin sekarang jaman teknologi canggih, tapi cara berpikir pastinya harus lebih canggih. Mungkin anak-anak sekarang sangat kritis, maka sebagai orang tua belajar bagaimana menyikapi ini dengan bijak. Demi masa depan mereka, yang menjadi kewajiban kita untuk memberikan yang terbaik. Jadikan mereka calon-calon pemimpin bangsa dan agama terbaik di masa depan.
Semangat Ayah Bunda...
Toko yang aku jaga bersama suamiku adalah toko kecil yang isinya adalah keperluan sehari-hari untuk rumah tangga. Biasanya kami buka pukul 6 sampai dengan menjelang maghrib,namun kalau suamiku di rumah, dia akan menutupnya cukup malam sekitar 8 atau 9 malam.
Suatu malam ada kisah kecil yang sangat mengejutkan bagiku.
Pukul 08.30 malam, tiba-tiba ada serombongan anak-anak kecil (aku menganggap mereka kecil karena masih berumur di bawah 17 tahun) membeli es krim di tokoku. Wah luar biasa anak-anak ini, dengan udara sedingin ini mereka makan es krim, pikirku.
Mereka seperti anak-anak normal lainnya, bercanda dan bersikap seperti anak-anak lainnya. Ternyata mereka makan es krim di depan toko kami, dan aku berencana akan menutup toko sebentar lagi.
Ternyata ada satu anak lagi masuk toko dengan membawa uang beberapa lembar, aku berpikir dia akan membeli kue, di etalase, ternyata dia menunjuk etalase rokok.
Aku masih tidak percaya dan bertanya apa yang ingin dia beli, dia menyebutkan sebuah merk rokok.
Dengan ragu aku mengambilkan rokok tersebut, dan bertanya berapa umur anak itu. Dia menyebutkan 12 tahun, kelas 6 SD.
Umur 6 tahun biasanya anak-anak di desa ini baru saja melakukan khitan, artinya bisa jadi anak kecil imut ini baru atau belum khitan.
Dengan ragu-ragu kubolak-balik bungkus rokok sambil bergumam kalau ada larangan rokok tidak dijual untuk anak dibawah usia 18 tahun. Dan ternyata benar.
Akhirnya kukatakan kalau umurnya tidak cukup untuk membeli rokok, dan anak imut itu (putih dan gembul) mengatakan kalau disuruh temannya, ada yang sudah dewasa yaitu SMP kelas 3.
Tapi aku bilang rokok tidak dijual ya untuk anak dibawah usia 18 tahun. Akhirnya aku beranikan diri untuk keluar rumah dan menengok menanyakan adakah yang sudah berumur 18 tahun, tidak satupun dari mereka yang berumur 18 tahun. Melihat fisik mereka, sepertinya mereka adalah anak-anak berumur 12 sampai 16 tahun.
Aku hanya mengatakan kalau mereka belum 18 tahun mereka tidak boleh merokok.
Melihat mereka masih diluar rumah saat malam seperti ini, aku berpikir apakah orang tua mereka tidak khawatir dan mencari mereka. Apakah orang tua mereka tahu bahwa anak mereka sedang berada diluar rumah bersama dengan kawan dan melakukan hal-hal yang belum seharusnya mereka jalani.
Sungguh menyedihkan pemandangan tersebut, mungkin itu hanya perkara kecil bagi sebagian besar orang. Tapi itu adalah perkara kecil yang akan berdampak besar bagi kehidupan mereka.
Mungkin di pelosok daerah lain, anak-anak seusia mereka sedang asyik belajar atau bekerja membantu orang tua mereka. Demi masa depan yang lebih baik. Mungkin di tempat lain, anak-anak seusia mereka sedang mengangkat senjata melawan musuh-musuh negara.
Ayah Bunda, lihatlah putra putri kita, jangan lupa mereka adalah amanah. Jaga baik-baik dan cintailah mereka. Tapi jangan lupa, bahwa mereka adalah masa depan, maka didiklah mereka sesuai dengan jamannya dengan cara yang bijak dan arif.
Mungkin sekarang jaman teknologi canggih, tapi cara berpikir pastinya harus lebih canggih. Mungkin anak-anak sekarang sangat kritis, maka sebagai orang tua belajar bagaimana menyikapi ini dengan bijak. Demi masa depan mereka, yang menjadi kewajiban kita untuk memberikan yang terbaik. Jadikan mereka calon-calon pemimpin bangsa dan agama terbaik di masa depan.
Semangat Ayah Bunda...
Komentar
Posting Komentar