Langsung ke konten utama

Dulu vs Sekarang

Ternyata menikah itu lebih melelahkan dibandingkan harus mempersiapkan presentasi di depan atasan saat dulu aku bekerja.
Dulu mungkin aku harus begadang, demi lancarnya sebuah kerjaan. Namun kini semua berbeda.
Menikah membuatku mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, karena lokasi yang tidak memungkinkanku untuk tetap bekerja.
Disaat suamiku tidak bisa (atau mungkin lebih karena tidak mau) berhenti bekerja, maka aku mengalah dan berhenti bekerja.

Dulu sebelum menikah aku tidak tahu bahwa semua akan lebih rumit dan kompleks.
Setelah menikah, aku harus tinggal bersama keluarga suamiku. Aku tidak begitu mengenal mereka sebelumnya, karena memang kami tidak begitu dekat.
Namun tidak berhenti disitu, lingkungan yang aku tinggali dipenuhi oleh keluarga ayah mertuaku, dari kakak sampai adik-adiknya berada di daerah tersebut.
Bagaimanapun caranya, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seperti itu.

Semua terasa berat di awal, bahkan sampai saat inipun tetap terasa berat. Ditambah dengan suami yang bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain, bahkan perasaanku.
Dulu semua hal bisa kubagi dengan kawan, tentang keluarga, kerja, teman-temanku.
Tidak ada hal yang dapat membuatku merasa sendiri meskipun aku berada sangat jauh dari keluargaku.

Semua terasa berbeda dan lebih berat saat ini. Bahkan seringkali menangis sendiri hingga tertidur pulas jadi pilihan dalam hidup.
Suami yang bisa aku ajak bicara, seringkali diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Mungkin baginya diam adalah pilihan tepat dibandingkan menimpali ucapanku yang tidak bermakna baginya.

Inilah hidupku, kadang pilihan yang indah tak selamanya tepat..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

my diary, May, 12 2014 Apakah begini rasanya merasakan bahwa hidup tidak lagi meledak-ledak Bahwa hidup tak lagi menarik untuk sekedar dijalani saja tanpa banyak mengeluh Aku merasakan hilang tersesat, entah kenapa Bahwa aku sesungguhnya hanya ingin duduk melihat bintang di malam hari, menatap aliran air yang terus mengalir tanpa henti, melihat langit biru di bawah bayangan dahan pohon Meranti Aku merasakan kalah kawan.. namun aku merasa tak berperang selama ini Memang bukan perang jika selama ini hanya berjalan dalam tertidur, Dan tak pula aku melangkah, Bukan melangkah jika kau tak tahu arahkan? Ada kalimat yang aku suka ‘kau akan sampai pada tujuanmu selama kau melangkah, meski sangat pelan langkah tersebut’ Apakah aku akan sampai pada tujuanku kawan? jika selama ini aku tak melangkah Bantu aku kawan, aku mulai kehilangan peta di hidupku, tergantikan oleh keegoisan Bantu aku kawan, meski hanya sesobek peta yang dulu pernah aku ceritakan padamu

Ngebolang di hari Sabtu with kawan

Hari ini harus bangun pagi, jam 6 keluar rumah jemput Nia dan janjian ketemu sama Umi di toko Jensud 2 Jambi. Malas sih sebenarnya bangun pagi, apalagi di hari hujan ini, tapi mau gimana lagi acara senam yang diadakan Dinsosnakertrans Jambi dalam memperingati Bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)  dijadwalkan jam 6.30 in this morning. So, udara dingin diluar gak bisa membuatku menarik selimut lagi. Sepanjang jalan ke rumah Nia, ternyata sudah mulai ramai. Tampak orang-orang jogging dengan balutan pakaian training hangat, beberapa anak sekolah keluar rumah sambil berlarian memanggil temannya, toko-toko mulai buka dan ramai dikunjungi ibu-ibu belanja pagi hari. Aku salah mengira, meski gerimis di pagi ini, tapi semua kegiatan tetap harus berjalan seperti biasa, ilmu dan pekerjaan tidak akan mempedulikan cuaca. Setelah menjemput Nia di rumahnya, kami meluncur ke tempat janjian dengan Umi. Sesampai di toko, gerimis mulai deras. Tidak lama kemudian Umi datang diantar kakaknya, dan ...

Lari pagi tak seindah bayangan..

Liat orang lari pagi kayak e enak, seger. So aku membulatkan tekad akan lari pagi, niat doang dari kemaren baru terlaksana pagi ini. Habis shubuh berangkat dengan segala persiapan aku berangkat pari pagi (sekalian buang sampah biar dikata anak baik sama ibu kos..). Baru beberapa meter, nafas udah ngos-ngosan. Karena malu ma diri sendiri terus aja lari gak peduli jantung kaki mulai pegel. Ternyata jalan yang udah dirancang untuk dilalui jauhnya minta ampun, berkali-kali sempat menyesali sok-sokan lari pagi. Setelah nafas udah mulai gak mau diajak kompromi jalan kaki deh, perut yang dari dini hari minta diisi makin ngambek. Sakit (inilah akibat pingin diet dengan cara sok keren.. hahahahah) akhirnya memutuskan jalan aja. Gak peduli deh, meski tadi ada seorang bapak yang menyemangati pas aku lari. Sepanjang jalan ketemu banyak hal, polusi pagi, warung-warung yang mulai dibuka, penyapu jalanan, truk pengangkut sampah (hebat ya, mereka kerja disaat kita masih pada merem lho), sampai den...