Ternyata menikah itu lebih melelahkan dibandingkan harus mempersiapkan presentasi di depan atasan saat dulu aku bekerja.
Dulu mungkin aku harus begadang, demi lancarnya sebuah kerjaan. Namun kini semua berbeda.
Menikah membuatku mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, karena lokasi yang tidak memungkinkanku untuk tetap bekerja.
Disaat suamiku tidak bisa (atau mungkin lebih karena tidak mau) berhenti bekerja, maka aku mengalah dan berhenti bekerja.
Dulu sebelum menikah aku tidak tahu bahwa semua akan lebih rumit dan kompleks.
Setelah menikah, aku harus tinggal bersama keluarga suamiku. Aku tidak begitu mengenal mereka sebelumnya, karena memang kami tidak begitu dekat.
Namun tidak berhenti disitu, lingkungan yang aku tinggali dipenuhi oleh keluarga ayah mertuaku, dari kakak sampai adik-adiknya berada di daerah tersebut.
Bagaimanapun caranya, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seperti itu.
Semua terasa berat di awal, bahkan sampai saat inipun tetap terasa berat. Ditambah dengan suami yang bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain, bahkan perasaanku.
Dulu semua hal bisa kubagi dengan kawan, tentang keluarga, kerja, teman-temanku.
Tidak ada hal yang dapat membuatku merasa sendiri meskipun aku berada sangat jauh dari keluargaku.
Semua terasa berbeda dan lebih berat saat ini. Bahkan seringkali menangis sendiri hingga tertidur pulas jadi pilihan dalam hidup.
Suami yang bisa aku ajak bicara, seringkali diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Mungkin baginya diam adalah pilihan tepat dibandingkan menimpali ucapanku yang tidak bermakna baginya.
Inilah hidupku, kadang pilihan yang indah tak selamanya tepat..
Dulu mungkin aku harus begadang, demi lancarnya sebuah kerjaan. Namun kini semua berbeda.
Menikah membuatku mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, karena lokasi yang tidak memungkinkanku untuk tetap bekerja.
Disaat suamiku tidak bisa (atau mungkin lebih karena tidak mau) berhenti bekerja, maka aku mengalah dan berhenti bekerja.
Dulu sebelum menikah aku tidak tahu bahwa semua akan lebih rumit dan kompleks.
Setelah menikah, aku harus tinggal bersama keluarga suamiku. Aku tidak begitu mengenal mereka sebelumnya, karena memang kami tidak begitu dekat.
Namun tidak berhenti disitu, lingkungan yang aku tinggali dipenuhi oleh keluarga ayah mertuaku, dari kakak sampai adik-adiknya berada di daerah tersebut.
Bagaimanapun caranya, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seperti itu.
Semua terasa berat di awal, bahkan sampai saat inipun tetap terasa berat. Ditambah dengan suami yang bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain, bahkan perasaanku.
Dulu semua hal bisa kubagi dengan kawan, tentang keluarga, kerja, teman-temanku.
Tidak ada hal yang dapat membuatku merasa sendiri meskipun aku berada sangat jauh dari keluargaku.
Semua terasa berbeda dan lebih berat saat ini. Bahkan seringkali menangis sendiri hingga tertidur pulas jadi pilihan dalam hidup.
Suami yang bisa aku ajak bicara, seringkali diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Mungkin baginya diam adalah pilihan tepat dibandingkan menimpali ucapanku yang tidak bermakna baginya.
Inilah hidupku, kadang pilihan yang indah tak selamanya tepat..
Komentar
Posting Komentar