Langsung ke konten utama

Surat-Surat Untuk Buah Hatiku (2)

Nak, kau tumbuh dengan cepat. Seringkali ibu salah menjawab saat ditanya berapa umurmu sekarang. Kini tak terasa kau sudah mencapai umur 20 bulan, waktu yang seakan berlari. Ibu merasa tidak ada perubahan yang berarti dalam hidup ibu. Tapi melihatmu ibu sadar, kau tumbuh dengan baik dan sehat, ibu berterima kasih pada Sang Pencipta dan juga padamu yang tumbuh dengan baik. Terima kasih cintaku..
Banyak kata yang kau ucapkan namun ibu tidak mengerti artinya, itu hanya membuat ibu tertawa dan gemas melihatmu. Saat kami tertawa melihat tingkah lucumu, kadang kau ikut tertawa, entah apa yang kau pikirkan.
Kau suka bermain, tapi yang kau mainkan adalah batu, sekrup yang tidak sengaja kau temukan, ah ya, sekarang kau sedang hobi bermain semua peralatan dapur. Itu membuat ibu harus ekstra hati-hati meletakkan barang pecah belah.
Kau tahu bahwa sekarang kau sangat suka minum teh manis hangat. Kalau sudah dingin kau tidak terlalu suka. Dibanding susu formula, kau lebih memilih minum teh hangat milik ibu atau ayah.
Nak, kau ingin menjadi apa nanti saat sudah dewasa, ibu penasaran. Dokterkah? Arsitek? Seniman? Pedagang? Penulis?
Saat kau tumbuh dewasa, jadilah seseorang yang berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua orang yang ada di sekitarmu. Jadilah apapun yang kau inginkan, tapi jangan setengah-setengah. Lakukan segalanya dengan penuh semangat, penuh tanggung jawab dan ikhlas.
Jadilah panutan seperti Fatimah putri Nabi Muhammad, itu harapan kami saat memberimu nama Fatimah Kaysah Azzahra.  
Kami bahagia memilikimu, kami selalu mencintaimu.


Pujon, 25 Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lari pagi tak seindah bayangan..

Liat orang lari pagi kayak e enak, seger. So aku membulatkan tekad akan lari pagi, niat doang dari kemaren baru terlaksana pagi ini. Habis shubuh berangkat dengan segala persiapan aku berangkat pari pagi (sekalian buang sampah biar dikata anak baik sama ibu kos..). Baru beberapa meter, nafas udah ngos-ngosan. Karena malu ma diri sendiri terus aja lari gak peduli jantung kaki mulai pegel. Ternyata jalan yang udah dirancang untuk dilalui jauhnya minta ampun, berkali-kali sempat menyesali sok-sokan lari pagi. Setelah nafas udah mulai gak mau diajak kompromi jalan kaki deh, perut yang dari dini hari minta diisi makin ngambek. Sakit (inilah akibat pingin diet dengan cara sok keren.. hahahahah) akhirnya memutuskan jalan aja. Gak peduli deh, meski tadi ada seorang bapak yang menyemangati pas aku lari. Sepanjang jalan ketemu banyak hal, polusi pagi, warung-warung yang mulai dibuka, penyapu jalanan, truk pengangkut sampah (hebat ya, mereka kerja disaat kita masih pada merem lho), sampai den...

Resolusi Baru Menjelang Tengah Tahun

Sudah tak terhitung ratusan jam dan puluhan hari sejak aku menunggu kehadiran malaikat kecilku, dan kini sudah tumbuh 7 gigi dan dia sedang tidak sabar untuk berlari. Aku sendiri mulai sibuk dengan menata satu-persatu impian untuk mandiri. Lucu memang hidup ini, saat seperti ini aku merasa waktu melesat sangat cepat hingga tak kusadari dunia banyak berubah namun diriku sepertinya belum berubah menjadi lebih baik lagi. Aku terlalu banyak menggunakan waktu untuk "entah apa yang kulakukan selama ini". Aku ingin menata hidupku lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan mulai dari awal, yaitu aku akan menulis di blog ini sebulan sekali (kalau seminggu sekali takut gak terlaksana). Jadi mohon bantuan ya, ingetin kalau belum ada update di ruangan ini, takut lupa.. hehehe Sekian hari ini, kita jumpa lagi lain waktu dengan bahasan yang lebih bermakna..
my diary, May, 12 2014 Apakah begini rasanya merasakan bahwa hidup tidak lagi meledak-ledak Bahwa hidup tak lagi menarik untuk sekedar dijalani saja tanpa banyak mengeluh Aku merasakan hilang tersesat, entah kenapa Bahwa aku sesungguhnya hanya ingin duduk melihat bintang di malam hari, menatap aliran air yang terus mengalir tanpa henti, melihat langit biru di bawah bayangan dahan pohon Meranti Aku merasakan kalah kawan.. namun aku merasa tak berperang selama ini Memang bukan perang jika selama ini hanya berjalan dalam tertidur, Dan tak pula aku melangkah, Bukan melangkah jika kau tak tahu arahkan? Ada kalimat yang aku suka ‘kau akan sampai pada tujuanmu selama kau melangkah, meski sangat pelan langkah tersebut’ Apakah aku akan sampai pada tujuanku kawan? jika selama ini aku tak melangkah Bantu aku kawan, aku mulai kehilangan peta di hidupku, tergantikan oleh keegoisan Bantu aku kawan, meski hanya sesobek peta yang dulu pernah aku ceritakan padamu