Langsung ke konten utama

Postingan

Surat-Surat Untuk Buah Hatiku (2)

Nak, kau tumbuh dengan cepat. Seringkali ibu salah menjawab saat ditanya berapa umurmu sekarang. Kini tak terasa kau sudah mencapai umur 20 bulan, waktu yang seakan berlari. Ibu merasa tidak ada perubahan yang berarti dalam hidup ibu. Tapi melihatmu ibu sadar, kau tumbuh dengan baik dan sehat, ibu berterima kasih pada Sang Pencipta dan juga padamu yang tumbuh dengan baik. Terima kasih cintaku.. Banyak kata yang kau ucapkan namun ibu tidak mengerti artinya, itu hanya membuat ibu tertawa dan gemas melihatmu. Saat kami tertawa melihat tingkah lucumu, kadang kau ikut tertawa, entah apa yang kau pikirkan. Kau suka bermain, tapi yang kau mainkan adalah batu, sekrup yang tidak sengaja kau temukan, ah ya, sekarang kau sedang hobi bermain semua peralatan dapur. Itu membuat ibu harus ekstra hati-hati meletakkan barang pecah belah. Kau tahu bahwa sekarang kau sangat suka minum teh manis hangat. Kalau sudah dingin kau tidak terlalu suka. Dibanding susu formula, kau lebih memilih minum teh hanga...
Postingan terbaru

Surat-Surat Untuk Buah Hatiku (1)

Nak, saat kau menikah nanti. Saat kau menjadi orang tua, jadilah orang tua yang bijak. Belajar dari pengalaman orang lain yang sukses mendidik anak-anaknya dengan baik. Jangan kau biarkan anakmu tumbuh di bawah bayang-bayang orang tua. Jangan paksakan kehendakmu pada mereka, jika mereka memilih jalan yang berbeda darimu tunjukkan jalan yang paling tepat dan terbaik. Saat mereka ingin terbang tinggi di langit, ajari mereka membuat sayap yang kuat dan tak mudah patah. Ingatlah, jamanmu hidup dengan jamannya akan menjalani hidup tidaklah sama. Sejak kecil, berikan dia tanggung jawab. Ajari dia melihat masalah dari beberapa sudut pandang. Bagi tugas rumah tangga pada mereka sejak kecil (meskipun laki-laki), agar mereka merasa memiliki tanggung jawab. Ajak mereka mengenal buku, semua jenis buku agar mereka semakin bijak. Agar menghargai waktu, itu sama dengan menghargai orang lain. Ajari mereka berbagi, karena itu dapat mengasah hati. Nak, aku yakin masih banyak kebajikan lain yang a...

Dulu vs Sekarang

Ternyata menikah itu lebih melelahkan dibandingkan harus mempersiapkan presentasi di depan atasan saat dulu aku bekerja. Dulu mungkin aku harus begadang, demi lancarnya sebuah kerjaan. Namun kini semua berbeda. Menikah membuatku mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, karena lokasi yang tidak memungkinkanku untuk tetap bekerja. Disaat suamiku tidak bisa (atau mungkin lebih karena tidak mau) berhenti bekerja, maka aku mengalah dan berhenti bekerja. Dulu sebelum menikah aku tidak tahu bahwa semua akan lebih rumit dan kompleks. Setelah menikah, aku harus tinggal bersama keluarga suamiku. Aku tidak begitu mengenal mereka sebelumnya, karena memang kami tidak begitu dekat. Namun tidak berhenti disitu, lingkungan yang aku tinggali dipenuhi oleh keluarga ayah mertuaku, dari kakak sampai adik-adiknya berada di daerah tersebut. Bagaimanapun caranya, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seperti itu. Semua terasa berat di awal, bahkan sampai saat inipun tetap terasa berat. Ditam...

Anak dan Masa Depan

Aku tinggal di sebuah rumah toko di sebuah desa kecil di kabupaten Malang. Kalau semua orang mengenal Malang karena banyak kampus dan Batu sebagai tempat pariwisata, tempatku tinggal adalah sebuah desa sederhana dengan penuh kearifan budaya dan kekayaan alamnya. Dekat dengan kota Batu, tapi masuk Kabupaten Malang. Toko yang aku jaga bersama suamiku adalah toko kecil yang isinya adalah keperluan sehari-hari untuk rumah tangga. Biasanya kami buka pukul 6 sampai dengan menjelang maghrib,namun kalau suamiku di rumah, dia akan menutupnya cukup malam sekitar 8 atau 9 malam. Suatu malam ada kisah kecil yang sangat mengejutkan bagiku. Pukul 08.30 malam, tiba-tiba ada serombongan anak-anak kecil (aku menganggap mereka kecil karena masih berumur di bawah 17 tahun) membeli es krim di tokoku. Wah luar biasa anak-anak ini, dengan udara sedingin ini mereka makan es krim, pikirku. Mereka seperti anak-anak normal lainnya, bercanda dan bersikap seperti anak-anak lainnya. Ternyata mereka makan es kr...

Resolusi Baru Menjelang Tengah Tahun

Sudah tak terhitung ratusan jam dan puluhan hari sejak aku menunggu kehadiran malaikat kecilku, dan kini sudah tumbuh 7 gigi dan dia sedang tidak sabar untuk berlari. Aku sendiri mulai sibuk dengan menata satu-persatu impian untuk mandiri. Lucu memang hidup ini, saat seperti ini aku merasa waktu melesat sangat cepat hingga tak kusadari dunia banyak berubah namun diriku sepertinya belum berubah menjadi lebih baik lagi. Aku terlalu banyak menggunakan waktu untuk "entah apa yang kulakukan selama ini". Aku ingin menata hidupku lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan mulai dari awal, yaitu aku akan menulis di blog ini sebulan sekali (kalau seminggu sekali takut gak terlaksana). Jadi mohon bantuan ya, ingetin kalau belum ada update di ruangan ini, takut lupa.. hehehe Sekian hari ini, kita jumpa lagi lain waktu dengan bahasan yang lebih bermakna..

KAMU ADALAH KEAJAIBAN UNTUKKU

Kapan kamu hadir ke dunia ini anakku? itu adalah pertanyaan yang akhir-akhir ini aku ucapkan dalam hati. Meski seringkali aku mengajakmu bicara, namun kau tidak menjawab dengan ucapan, kau hanya menjawab dengan gerakan yang tidak kumengerti artinya. Apakah kau akan hadir nanti, besok atau lusa. Sebagai seorang istri, adalah kebahagiaan terbesar jika diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Kebahagiaan tidak hanya terpancar dariku dan juga suami, namun dari semua anggota keluarga yang telah menanti suara tangis bayi dalam rumah ini. Bukankah itu menjadi penyemangat di kala bumil (ibu hamil) muda mengalami masa-masa yang sangat luar biasa. Mual, muntah, tidak berselera makan, sensitif terhadap bau, kadangkala menjadi sangat pemarah/ sensitif tidak beralasan. r Aku ingat beberapa bulan lalu, saat kehamilanku masih muda. Sore itu aku lapar dan tidak berselera makan nasi, jadi aku meminta suatmi untuk membelikanku ketela keju yang biasa kami beli. Suamiku keluar rumah dan kembali be...

Lari pagi tak seindah bayangan..

Liat orang lari pagi kayak e enak, seger. So aku membulatkan tekad akan lari pagi, niat doang dari kemaren baru terlaksana pagi ini. Habis shubuh berangkat dengan segala persiapan aku berangkat pari pagi (sekalian buang sampah biar dikata anak baik sama ibu kos..). Baru beberapa meter, nafas udah ngos-ngosan. Karena malu ma diri sendiri terus aja lari gak peduli jantung kaki mulai pegel. Ternyata jalan yang udah dirancang untuk dilalui jauhnya minta ampun, berkali-kali sempat menyesali sok-sokan lari pagi. Setelah nafas udah mulai gak mau diajak kompromi jalan kaki deh, perut yang dari dini hari minta diisi makin ngambek. Sakit (inilah akibat pingin diet dengan cara sok keren.. hahahahah) akhirnya memutuskan jalan aja. Gak peduli deh, meski tadi ada seorang bapak yang menyemangati pas aku lari. Sepanjang jalan ketemu banyak hal, polusi pagi, warung-warung yang mulai dibuka, penyapu jalanan, truk pengangkut sampah (hebat ya, mereka kerja disaat kita masih pada merem lho), sampai den...